Kamis, Desember 26

Selimut Debu, Menyingkap Afghanistan



Selimut Debu, Menyingkap Afghanistan

Judul : Selimut Debu
Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2011
Tebal : xiii + 461 
ISBN : 978-979-22-7463-9

Apa yang tersirat dalam pikiran anda ketika mendengar kata “Afghanistan” ? Mungkin yang akan terbayang hanya perang, Taliban, bom, senjata, kelaparan, dan hal lainnya yang menggambarkan suatu negara yang amat miskin, yang biasa terlihat di Media. Nyatanya, tak hanya itu, ternyata dibalik itu semua, Afghanistan menyimpan sesuatu yang mungkin belum terjamah. Dibalik perangnya yang berkecamuk, orang Afghanistan ternyata memiliki budaya, bahwa setiap mehman (tamu) harus dilayani dengan tulus, meski mereka sendiri harus berkorban. Dan juga siapa sangka, dibalik sunyinya gurun pasir Afghanistan, dulunya merupakan pusat pengajaran umat Buddha diseluruh dunia, dapat dibuktikan dengan adanya patung – patung Buddha berlapis emas dan permata yang tersimpan didalam bukit Bamiyan, dan juga Danau dekat lembah Yakawlang, yang menurut legenda masyarakat setempat adalah danau yang berasal dari peristiwa  Ali bin Abi Thalib yang berperang melawan seekor naga yang bersarang di lembah tersebut.

Afghanistan memang terkenal dengan perangnya, perang Afghanistan berawal sejak zaman Uni Soviet berkuasa, dimana Presiden Najibullah, Presiden Afghanistan kala itu medukung secara penuh gerakan Uni Soviet, namun menolak untuk masuk ke dalam kekuasaan negara Uni Soviet, meski letaknya bertetangga. Uni Soviet berusaha mengubah Afghanistan menjadi Komunis, dan rakyat menolaknya dengan membentuk Tentara Mujahiddin. Namun, sekarang Uni Soviet telah runtuh, dan rakyat Afghanistan kembali menjadi Muslim yang taat.

Selain Perang dengan Uni Soviet, Kaum Taliban yang setia dengan nilai – nilai Islam konservatif beraliran Syiah, juga menimbulkan konflik sampai saat ini. Adanya perbedaan paham antara Islam Syiah dan Sunni, seringkali memakan korban jiwa, bahkan Anak – Anak yang bersekolah pun menjadi korbannya. Dan karena itu pula, banyak bantuan dari luar negeri susah masuk ke daerah pedalaman Afghanistan. Organisasi Sosial yang dananya disokong oleh negara – negara maju, kebanyakan hanya habis untuk asuransi untuk membiayai antisipasi serangan Taliban dan biaya transport para pegawai, bukan untuk membantu rakyat Afghanistan yang terbelakang, objek sesungguhnya. Tingginya korupsi dan berbelitnya birokrasi juga tak jarang menambah tersendatnya aliran dana sosial tersebut.

Selain itu, buku ini juga mendeskripsikan kehidupan para suku di Afghanistan, mulai dari Hazara, Tajik, Uzbek, Pashtun, yang masing – masing mempunyai karakteristik tersendiri, dan juga menjelaskan kehidupan rakyat Afghanistan yang merantau di Iran dan Pakistan.

Buku ini juga ditulis oleh Agustinus Wibowo yang merupakan salah satu dari penulis travelogue yang tergabung dalam komunitas penulis di Jakarta. Karya penulis juga sering dimuat dalam Kompas.com dan karena itu pula buku ini telah disunting oleh penulis Kompas, tentunya suntingan mereka sudah tidak diragukan lagi kualitasnya.

Apabila anda membaca buku Selimut Debu ini, seolah anda benar – benar memasuki Afghanistan. Penulis sangat mahir dalam menggambarkan detail tempat, mulai dari asal muasal tempat, hingga kondisi sosial masyarakat yang dikemas dalam percakapan bahasa Afghanistan. Selain itu, Afghanistan yang mempunyai peranan penting dalam peradaban kuno, melahirkan banyak pujangga, dan karya pujangga tersebut dikutip dalam setiap bab dalam buku ini, yang tentu saja kita sebagai masyarakat Indonesia jarang menemukannya dalam buku manapun. Kata – katanyapun sangat komunikatif, penulis menyajikan cerita dengan bahasa yang tidak terlalu baku, tetapi tidak juga terlalu formal, sangat cocok dibaca pada waktu senggang. Juga terdapat istilah dalam bahasa Afghanistan yang disisipkan dalam cerita, terutama untuk percakapan sehari hari dan salam perkenalan, sehingga dapat menambah kosakata kita dalam bahasa asing. Keistimewaan buku ini, meski harganya lumayan terjangkau, namun terdapat halaman khusus dengan menggunakan photopaper, yang menampilkan foto – foto keadaan masyarakat di Afghanistan. Gambarnya pun sangat jernih, dan tergolong high resolution.

Tentunya buku ini juga mempunyai sedikit kekurangan yang tampaknya perlu dievalasi, seperti cerita terkadang tidak berurutan, sehingga membingungkan pembaca, lanjutan dari kota A, mengapa harus ke kota C terleih dahulu, bukan ke kota B. Penyuntingan ulang dengan menyusun sesuai kronologis cerita akan membuat buku ini jauh lebih baik. Dan juga kurangnya detail tentang peta Afghanistan yang disertakan, meski telah dijelaskan dengan kalimat “saya hendak pergi ke...”, namun akan lebih baik jika dalam setiap cerita ditunjukkan dengan infografis dimana letak kota yang dideskripsikan dalam cerita tersebut, sehingga memudahkan pembaca membayangkan tentang letak kota, dari bab sebelumnya, maupun ke bab setelahnya.

Buku ini sangat baik dijadikan referensi bagi para backpacker yang hendak pergi ke Timur Tengah dan sekitarnya, karena didalamnya terdapat detail tentang medan perjalanan yang tentunya merupakan aspek penting dalam melakukan suatu perjalanan, dan buku ini juga terdapat bahasa sehari – hari, yang dapat memudahkan komunikasi dengan penduduk setempat. Selain itu, disini juga terdapat detail tentang objek wisata yang belum terjamah di daerah Afgahnistan dan negara – negara sekitarnya, seperti Tajikistan, Turkmenistan, dan Pakistan. 

Juga baik pula diperuntukkan pada para pengamat sosial, karena berisi secara mendalam kondisi masyarakat Afghanistan, konflik yang melanda negara tersebut, sejarah peradaban kuno Afghanistan, dan juga budaya dari suku – suku asli Afghanistan yang juga mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat Afghanistan. Disamping itu, dalam buku satu kondisi masyarakat tidak hanya dipandang dalam satu sisi, melainkan dari berbagai sisi. Contohnya adalah kondisi rakyat Afghanistan yang keras dan cenderung konvensional, dipandang menurut sisi rakyat Afghanistan itu sendiri, rakyat Iran dari negara tetangga, dan para ekspatriat dari negara luar yang menetap di Afghanistan.