Selimut Debu, Menyingkap Afghanistan
Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2011
Tebal : xiii + 461
ISBN : 978-979-22-7463-9
Apa yang tersirat dalam pikiran anda
ketika mendengar kata “Afghanistan” ? Mungkin yang akan terbayang hanya perang,
Taliban, bom, senjata, kelaparan, dan hal lainnya yang menggambarkan suatu
negara yang amat miskin, yang biasa terlihat di Media. Nyatanya, tak hanya itu,
ternyata dibalik itu semua, Afghanistan menyimpan sesuatu yang mungkin belum
terjamah. Dibalik perangnya yang berkecamuk, orang Afghanistan ternyata
memiliki budaya, bahwa setiap mehman
(tamu) harus dilayani dengan tulus, meski mereka sendiri harus berkorban. Dan
juga siapa sangka, dibalik sunyinya gurun pasir Afghanistan, dulunya merupakan
pusat pengajaran umat Buddha diseluruh dunia, dapat dibuktikan dengan adanya
patung – patung Buddha berlapis emas dan permata yang tersimpan didalam bukit
Bamiyan, dan juga Danau dekat lembah Yakawlang, yang menurut legenda masyarakat
setempat adalah danau yang berasal dari peristiwa Ali bin Abi Thalib yang berperang melawan
seekor naga yang bersarang di lembah tersebut.
Afghanistan memang terkenal dengan perangnya,
perang Afghanistan berawal sejak zaman Uni Soviet berkuasa, dimana Presiden
Najibullah, Presiden Afghanistan kala itu medukung secara penuh gerakan Uni
Soviet, namun menolak untuk masuk ke dalam kekuasaan negara Uni Soviet, meski
letaknya bertetangga. Uni Soviet berusaha mengubah Afghanistan menjadi Komunis,
dan rakyat menolaknya dengan membentuk Tentara Mujahiddin. Namun, sekarang Uni
Soviet telah runtuh, dan rakyat Afghanistan kembali menjadi Muslim yang taat.
Selain Perang dengan Uni Soviet, Kaum
Taliban yang setia dengan nilai – nilai Islam konservatif beraliran Syiah, juga
menimbulkan konflik sampai saat ini. Adanya perbedaan paham antara Islam Syiah
dan Sunni, seringkali memakan korban jiwa, bahkan Anak – Anak yang bersekolah
pun menjadi korbannya. Dan karena itu pula, banyak bantuan dari luar negeri
susah masuk ke daerah pedalaman Afghanistan. Organisasi Sosial yang dananya
disokong oleh negara – negara maju, kebanyakan hanya habis untuk asuransi untuk
membiayai antisipasi serangan Taliban dan biaya transport para pegawai, bukan
untuk membantu rakyat Afghanistan yang terbelakang, objek sesungguhnya.
Tingginya korupsi dan berbelitnya birokrasi juga tak jarang menambah
tersendatnya aliran dana sosial tersebut.
Selain itu, buku ini juga
mendeskripsikan kehidupan para suku di Afghanistan, mulai dari Hazara, Tajik,
Uzbek, Pashtun, yang masing – masing mempunyai karakteristik tersendiri, dan
juga menjelaskan kehidupan rakyat Afghanistan yang merantau di Iran dan
Pakistan.
Buku ini juga ditulis oleh Agustinus
Wibowo yang merupakan salah satu dari penulis travelogue yang tergabung dalam komunitas penulis di Jakarta. Karya
penulis juga sering dimuat dalam Kompas.com dan karena itu pula buku ini telah
disunting oleh penulis Kompas, tentunya suntingan mereka sudah tidak diragukan
lagi kualitasnya.
Apabila anda membaca buku Selimut Debu
ini, seolah anda benar – benar memasuki Afghanistan. Penulis sangat mahir dalam
menggambarkan detail tempat, mulai dari asal muasal tempat, hingga kondisi
sosial masyarakat yang dikemas dalam percakapan bahasa Afghanistan. Selain itu,
Afghanistan yang mempunyai peranan penting dalam peradaban kuno, melahirkan
banyak pujangga, dan karya pujangga tersebut dikutip dalam setiap bab dalam
buku ini, yang tentu saja kita sebagai masyarakat Indonesia jarang menemukannya
dalam buku manapun. Kata – katanyapun sangat komunikatif, penulis menyajikan
cerita dengan bahasa yang tidak terlalu baku, tetapi tidak juga terlalu formal,
sangat cocok dibaca pada waktu senggang. Juga terdapat istilah dalam bahasa
Afghanistan yang disisipkan dalam cerita, terutama untuk percakapan sehari hari
dan salam perkenalan, sehingga dapat menambah kosakata kita dalam bahasa asing.
Keistimewaan buku ini, meski harganya lumayan terjangkau, namun terdapat
halaman khusus dengan menggunakan photopaper,
yang menampilkan foto – foto keadaan masyarakat di Afghanistan. Gambarnya pun
sangat jernih, dan tergolong high
resolution.
Tentunya buku ini juga mempunyai sedikit
kekurangan yang tampaknya perlu dievalasi, seperti cerita terkadang tidak
berurutan, sehingga membingungkan pembaca, lanjutan dari kota A, mengapa harus
ke kota C terleih dahulu, bukan ke kota B. Penyuntingan ulang dengan menyusun
sesuai kronologis cerita akan membuat buku ini jauh lebih baik. Dan juga kurangnya
detail tentang peta Afghanistan yang disertakan, meski telah dijelaskan dengan
kalimat “saya hendak pergi ke...”, namun akan lebih baik jika dalam setiap
cerita ditunjukkan dengan infografis dimana letak kota yang dideskripsikan
dalam cerita tersebut, sehingga memudahkan pembaca membayangkan tentang letak
kota, dari bab sebelumnya, maupun ke bab setelahnya.
Buku ini sangat baik dijadikan referensi
bagi para backpacker yang hendak pergi ke Timur Tengah dan sekitarnya, karena
didalamnya terdapat detail tentang medan perjalanan yang tentunya merupakan
aspek penting dalam melakukan suatu perjalanan, dan buku ini juga terdapat
bahasa sehari – hari, yang dapat memudahkan komunikasi dengan penduduk setempat.
Selain itu, disini juga terdapat detail tentang objek wisata yang belum
terjamah di daerah Afgahnistan dan negara – negara sekitarnya, seperti
Tajikistan, Turkmenistan, dan Pakistan.
Juga baik pula diperuntukkan pada para
pengamat sosial, karena berisi secara mendalam kondisi masyarakat Afghanistan,
konflik yang melanda negara tersebut, sejarah peradaban kuno Afghanistan, dan
juga budaya dari suku – suku asli Afghanistan yang juga mempengaruhi sikap dan
perilaku masyarakat Afghanistan. Disamping itu, dalam buku satu kondisi
masyarakat tidak hanya dipandang dalam satu sisi, melainkan dari berbagai sisi.
Contohnya adalah kondisi rakyat Afghanistan yang keras dan cenderung
konvensional, dipandang menurut sisi rakyat Afghanistan itu sendiri, rakyat
Iran dari negara tetangga, dan para ekspatriat dari negara luar yang menetap di
Afghanistan.