Minggu, Desember 29

Pulang, Sebuah Novel



Pulang, Sebuah Novel


Judul : Pulang

Penulis : Leila Chudori

Penerbit : Kompas Gramedia

Tahun : 2013

Tebal : 454 viii

ISBN : 978-979-91-0515-8

Prancis, sebuah negara yang terkenal akan mode nya, dunia fashion dan wine nya sangat terkenal di seluruh penduduk di muka bumi, dan menara Eiffel di kota Paris, yang pernah masuk kedalam daftar keajaiban dunia, sudah menjadi ciri negara tersebut. Namun siapa sangka, satu – satunya restoran di bawah menara kebanggaan Prancis itu adalah milik Indonesia. Pasti penasaran, alangkah hebatnya, bagaimana rakyat Indonesia bisa sampai hebat seperti itu?

Disamping kehebatan itu, marilah kita kembali ke Tanah Air, masih ingatkah Anda dengan peristiwa Lubang Buaya? Setelah peristiwa di Lubang Buaya yang menewaskan para Jenderal Besar tersebut, menimbulkan banyak konflik di Indonesia, terutama ketidakstabilan politik. PKI pun dituding sebagai biang keladi dari peristiwa itu. Dengan begitu, banyak dari simpatisan PKI menjadi bulan – bulanan masyarakat, terutama di kota besar.

Keluarga Simpatisan PKI yang sebelumnya memiliki citra baik dimasyarakat, kini harus dicemooh, dan diterror. Belum lagi tekanan dari pemerintah yang menolak para keturunan PKI untuk bekerja di pemerintahan, dan pengiriman pasukan khusus untuk menangkap para keluarga PKI.

Lintang, anak dari lelaki politisi PKI di Indonesia dan seorang wanita berdarah Prancis, Vivine Devraux. Gadis kuliahan ini tinggal menetap bersama Ibunya, dan diceritakan pada novel ini, dia ingin menyelesaikan skripsinya yang bertemakan Tanah Kelahiran Ayahnya, Indonesia, yang sudah lama tak ia kunjungi, dan mau tidak mau dia harus ke sana. Dapatkah Lintang ke Indonesia? Bagaimana dengan ancaman terror pemerintah? 

Semuanya akan diceritakan dalam novel “Pulang” ini, mulai dari sepak terjang ayah Lintang, sampai detail tentang kehidupan Lintang ketika di Indonesia. Ceritanya mengundang decak kagum, dan tidak mudah ditebak. Penulis Leila S. Chudori tampaknya berhasil membuat pembaca merasa penasaran, dengan awal cerita yang tidak berkaitan, dan ujung yang saling menyatu, melengkapi satu sama lain. Pembaca juga akan lebih paham tentang sejarah Indonesia pada masa orde baru, karena cerita yang disajikan penulis sangat berkaitan erat dengan peristiwa sejarah Indonesia, seperti Peristiwa Lubang Buaya, dan Kisah Penembakan Misterius. Disini, penulis tampaknya mahir dalam mengemas cerita novel, dicampur dengan sejarah Indonesia, ditambahkan bumbu – bumbu romantisme remaja, belum lagi pemasukan aktivitas para politisi, semuanya “masuk”, dan sempurna. Dengan begitu, rasa nasionalisme pembaca juga akan tersentuh.

Novel ini juga diambil dari berbagai macam sudut pandang, ada bab yang menuju pada Lintang, Vivine Devraux, dll. Namun, meski begitu, cerita tetap berjalan. Tidak putus ditengah, berhenti sementara, lalu maju seperti novel lain.

Latar tempat, baik di Prancis maupun di Indonesia, juga dideskripsikan dengan sangat jelas, mulai dari Paris, Champs-Elysees, sampai Monas, Kampung Melayu diceritakan. Tak tanggung – tanggung, setiap latar tempat dikemas penulis seolah tempat itu sangat menarik, semua aspek dimasukkan. Membuat siapapun yang membaca, ingin meruntut ulang reka kejadian yang ditulis di novel. Contohnya ketika Peristiwa 13 Mei, berada di Tri Sakti, Lintang berada di lantai dasar menunggu sang pujaan hati.

Setiap bab juga dilengkapi dengan gambar abstrak,sehingga menimbulkan keingintahuan para pembaca akan cerita dalam bab tersebut. Juga gambar tersebut merupakan hasil karya dari seniman terkenal Indonesia.

Disamping kelebihan, tentunya novel ini juga memiliki kekurangan, diantaranya awalan cerita tdak begitu jelas. Samar – samar, mungkin bertujuan untuk menimbulkan rasa ingin tahu, namun terlalu samar, sehingga membuat pembaca bingung, “mau kemana cerita ini akan menuju?”. Akan lebih baik lagi, jika penggambaran awal cerita tidak terlalu jauh, misalnya, buku – buku berideologi komunis, tampaknya tidak usah diceritakan terlalu detail.
Novel ini sangat bagus untuk dibaca para remaja, karena dari novel tersebut, selain dapat menikmati alur cerita yang “menegangkan”, juga dapat belajar mengenai sejarah Indonesia, yang mana buku – buku teks sekolah menerangkan hal ini dengan cara yang terbilang membosankan. Hanya cerita, penggambaran cerita, sedikit gambar, tanpa sentuhan perasaan. Namun dengan novel ini, perasaan para remaja juga dipakai dalam pembelajaran, bayangan mengenai peristiwa dan keadaan pada masa itu, dan aspek  - aspek belajar lain yang dapat mengoptimalkan pembelajaran.

Kepada para pembaca yang ingin bersantai, ketika hobi membaca menjadi kebiasaan sehari – hari, novel ini sangat baik untuk dibaca. Meski terlihat berat, namun sebetulnya, novel ini sangatlah ringan, kata – katanya sangat familiar, dan banyak istilah asing yan membuat kita lebih “merasakan” alur cerita novel tersebut.

Dan juga kepada para pencinta sejarah Indonesia, novel ini sangat baik untuk dijadaikan referensi, karena disamping terdapat detail tentang sejarah Indonesia, novel ini juga mengkaji hubungan Indonesia dengan Prancis pada masa lampau.