Pulang, Sebuah
Novel
Penulis : Leila Chudori
Penerbit : Kompas Gramedia
Tahun : 2013
Tebal : 454 viii
ISBN : 978-979-91-0515-8
Prancis, sebuah negara yang terkenal akan mode nya, dunia fashion dan wine
nya sangat terkenal di seluruh penduduk di muka bumi, dan menara Eiffel di kota
Paris, yang pernah masuk kedalam daftar keajaiban dunia, sudah menjadi ciri
negara tersebut. Namun siapa sangka, satu – satunya restoran di bawah menara
kebanggaan Prancis itu adalah milik Indonesia. Pasti penasaran, alangkah
hebatnya, bagaimana rakyat Indonesia bisa sampai hebat seperti itu?
Disamping kehebatan itu, marilah kita kembali ke Tanah Air, masih ingatkah
Anda dengan peristiwa Lubang Buaya? Setelah peristiwa di Lubang Buaya yang
menewaskan para Jenderal Besar tersebut, menimbulkan banyak konflik di
Indonesia, terutama ketidakstabilan politik. PKI pun dituding sebagai biang
keladi dari peristiwa itu. Dengan begitu, banyak dari simpatisan PKI menjadi
bulan – bulanan masyarakat, terutama di kota besar.
Keluarga Simpatisan PKI yang sebelumnya memiliki citra baik dimasyarakat,
kini harus dicemooh, dan diterror. Belum lagi tekanan dari pemerintah yang
menolak para keturunan PKI untuk bekerja di pemerintahan, dan pengiriman
pasukan khusus untuk menangkap para keluarga PKI.
Lintang, anak dari lelaki politisi PKI di Indonesia dan seorang wanita
berdarah Prancis, Vivine Devraux. Gadis kuliahan ini tinggal menetap bersama
Ibunya, dan diceritakan pada novel ini, dia ingin menyelesaikan skripsinya yang
bertemakan Tanah Kelahiran Ayahnya, Indonesia, yang sudah lama tak ia kunjungi,
dan mau tidak mau dia harus ke sana. Dapatkah Lintang ke Indonesia? Bagaimana
dengan ancaman terror pemerintah?
Semuanya akan diceritakan dalam novel “Pulang” ini, mulai dari sepak
terjang ayah Lintang, sampai detail tentang kehidupan Lintang ketika di
Indonesia. Ceritanya mengundang decak kagum, dan tidak mudah ditebak. Penulis
Leila S. Chudori tampaknya berhasil membuat pembaca merasa penasaran, dengan
awal cerita yang tidak berkaitan, dan ujung yang saling menyatu, melengkapi
satu sama lain. Pembaca juga akan lebih paham tentang sejarah Indonesia pada masa
orde baru, karena cerita yang disajikan penulis sangat berkaitan erat dengan
peristiwa sejarah Indonesia, seperti Peristiwa Lubang Buaya, dan Kisah
Penembakan Misterius. Disini, penulis tampaknya mahir dalam mengemas cerita
novel, dicampur dengan sejarah Indonesia, ditambahkan bumbu – bumbu romantisme
remaja, belum lagi pemasukan aktivitas para politisi, semuanya “masuk”, dan
sempurna. Dengan begitu, rasa nasionalisme pembaca juga akan tersentuh.
Novel ini juga diambil dari berbagai macam sudut pandang, ada bab yang
menuju pada Lintang, Vivine Devraux, dll. Namun, meski begitu, cerita tetap
berjalan. Tidak putus ditengah, berhenti sementara, lalu maju seperti novel
lain.
Latar tempat, baik di Prancis maupun di Indonesia, juga dideskripsikan
dengan sangat jelas, mulai dari Paris, Champs-Elysees, sampai Monas, Kampung
Melayu diceritakan. Tak tanggung – tanggung, setiap latar tempat dikemas
penulis seolah tempat itu sangat menarik, semua aspek dimasukkan. Membuat
siapapun yang membaca, ingin meruntut ulang reka kejadian yang ditulis di
novel. Contohnya ketika Peristiwa 13 Mei, berada di Tri Sakti, Lintang berada
di lantai dasar menunggu sang pujaan hati.
Setiap bab juga dilengkapi dengan gambar abstrak,sehingga menimbulkan
keingintahuan para pembaca akan cerita dalam bab tersebut. Juga gambar tersebut
merupakan hasil karya dari seniman terkenal Indonesia.
Disamping kelebihan, tentunya novel ini juga memiliki kekurangan,
diantaranya awalan cerita tdak begitu jelas. Samar – samar, mungkin bertujuan
untuk menimbulkan rasa ingin tahu, namun terlalu samar, sehingga membuat
pembaca bingung, “mau kemana cerita ini akan menuju?”. Akan lebih baik lagi,
jika penggambaran awal cerita tidak terlalu jauh, misalnya, buku – buku berideologi
komunis, tampaknya tidak usah diceritakan terlalu detail.
Novel ini sangat bagus untuk dibaca para remaja, karena dari novel
tersebut, selain dapat menikmati alur cerita yang “menegangkan”, juga dapat
belajar mengenai sejarah Indonesia, yang mana buku – buku teks sekolah
menerangkan hal ini dengan cara yang terbilang membosankan. Hanya cerita, penggambaran
cerita, sedikit gambar, tanpa sentuhan perasaan. Namun dengan novel ini, perasaan
para remaja juga dipakai dalam pembelajaran, bayangan mengenai peristiwa dan
keadaan pada masa itu, dan aspek - aspek
belajar lain yang dapat mengoptimalkan pembelajaran.
Kepada para pembaca yang ingin bersantai, ketika hobi membaca menjadi
kebiasaan sehari – hari, novel ini sangat baik untuk dibaca. Meski terlihat
berat, namun sebetulnya, novel ini sangatlah ringan, kata – katanya sangat
familiar, dan banyak istilah asing yan membuat kita lebih “merasakan” alur cerita
novel tersebut.
Dan juga kepada para pencinta sejarah Indonesia, novel ini sangat baik
untuk dijadaikan referensi, karena disamping terdapat detail tentang sejarah
Indonesia, novel ini juga mengkaji hubungan Indonesia dengan Prancis pada masa
lampau.
