Jumat, November 2

The Lean Startup - Bagaimana Seharusnya Startup Bekerja?


Resensi
The Lean Startup
Eric Ries

Bentang Pustaka
Dari pada kerja kantoran yang membosankan, banyak lulusan universitas memutuskan untuk membangun sebuah startup. Namun, bukannya baik, kebanyakan startup malah dirudung oleh ribuan masalah yang tak terselesaikan, hingga banyak dari mereka yang berujung pailit. Eric Ries melalui bukunya “The Lean Startup” mencoba mengulas apa saja penyebab kebanyakan startup gagal dan memperkenalkan metode Lean Startup sebagai solusinya.

Indikator Kinerja
Menurut Ries, kebanyakan startup seringkali salah menentukan indikator kerja. Sehingga, mereka seolah sudah sukses dan merasa berhasil. Padahal, mereka sejatinya belum melakukan apa – apa. Sudah dikerjakan dengan sepenuh hati, tapi tak tahu mau kemana arahnya. Hal semacam ini tentu hanya memboroskan sumber daya, baik finansial maupun manusianya.

“Mulailah mempertanyakan indikator keberhasilan. Apakah masih relevan? Bagaimana jika ternyata kita membuat sesuatu yang tidak diinginkan siapapun?” begitu tanya Ries dalam bukunya. Startup diwajibkan untuk tau kemana arahnya, dan gunakan indikator yang sedemikian representatif untuk mengukur pertumbuhan. Contohnya, pertumbuhan pengguna lebih baik digunakan sebagai indikator, ketimbang jumlah pengguna secara keseluruhan.

Produktif
Tak hanya itu, kebanyakan startup hari ini bekerja dengan batch (pembagian) yang besar dengan alasan profesionalisme. Pekerjaan diselesaikan sampai tuntas, baru kemudian dievaluasi oleh rekannya. Menurut mereka, produktivitas diartikan sebagai seberapa banyak pekerjaan yang dapat dilakukan. Contohnya ketika tim programmer mengerjakan ratusan ribu baris kode siang malam, tanpa berkonsultasi dengan tim marketing. Tim programmer mengatakan mereka sudah sangat produktif dan bangga akan hal tersebut. Namun, pada saat konsultasi, tim marketing mengatakan bahwa kode harus dirombak ulang karena tidak sesuai dengan keinginan konsumen.

Padahal, menurut Ries, produktivitas sesungguhnya adalah pembelajaran yang tervalidasi (validated learning), yaitu seberapa banyak pekerjaan yang telah terevaluasi oleh tim dan terbukti bahwa pekerjaannya berguna bagi konsumen dan kelangsungan startup. Jika menyelesaikan banyak pekerjaan namun tidak dipakai, apakah itu yang dikatakan produktif? Bukankah itu hanya membuang – buang tenaga? Bagi contoh tim programmer tadi, mengapa tidak sedikit demi sedikit dikonsultasikan? Tentu, apabila ada yang salah atau ada yang tidak sesuai keinginan konsumen, langsung diperbaiki, dan tidak sia-sia waktunya.

Ries juga menganjurkan para pelaku startup untuk menggunakan Kanban Flow, yaitu alur kerja dibagi kedalam empat bagian seperti yang tertera pada tabel di bawah.
Backlog
Sedang Dibuat
Sudah Selesai
Sedang Divalidasi
A
E
D
C
B
F


C




Pekerjaan harus dikerjakan berurut dari alur backlog di paling kiri, sampai sedang divalidasi yang ada di pojok kanan. Semua tim bergerak menyalurkan keahliannya dan eksekusi tanpa birokrasi. Semua saling terkoneksi satu sama lain, tak ada divisi sentris. Setiap orang berhak menambahkan backlog atau mengerjakan backlog sampai proses-proses selanjutnya. Dan, untuk menghindari adanya penumpukkan pekerjaan, setiap fase tidak boleh lebih dari 3 job. Sehingga, job-job yang ada harus diselesaikan terlebih dahulu.

Mengelola Modal
Kebanyakan startup hari ini masih kebingungan bagaimana cara mengelola modal. Berapa yang harus disisihkan untuk meriset pasar, berapa alokasi untuk membuat produk, semua masih abstrak. Menurut Ries, modal harus dibagi ke dalam beberapa bagian dan asumsikan bagian tersebut sebagai nyawa dari startup. Misal suatu startup memiliki Rp 1 juta. Maka, dengan asumsi startup memiliki 10 nyawa, bagilah Rp 1 juta tersebut menjadi sepuluh. Setiap nyawa berharga Rp 100 ribu.

Gunakan nyawa tersebut satu per satu dan lihat perkembangannya. Riset pasar di awal membutuhkan 2 buah nyawa dan akan terlihat apakah pasar sesungguhnya membutuhkan aplikasi kita atau tidak. Apabila tidak, aplikasi seperti apa yang dibutuhkan. Dengan 1 nyawa, berapa banyak pengguna aplikasi yang dapat dihasilkan? Dan, dengan 1 nyawa tambahan lagi, seberapa pesat pertumbuhan pengguna? Jika tidak bertumbuh, apakah sebaiknya kita banting setir membuat produk yang jelas laku di pasar? Teknik ini diambil dari pengalaman Ries bahwa startup terkadang melakukan banting setir ditengah jalan, ketika mengetahui produknya tidak dibutuhkan di pasar.

Riset Eksperimen
Kebanyakan startup hari ini juga masih mengandalkan riset pasar metode kuantitatif (dengan menggunakan skala likert dan menanyakan para responden untuk mengisi survey). Skala likert ini dijadikan acuan untuk pengambilan keputusan riset pasar. Padahal, metode kuantitatif tidak selalu benar dan responden yang ditanyakan bisa jadi bukan target konsumen kita sesungguhnya. “Jangan cari konsumen biasa, carilah konsumen yang paling membutuhkan,” begitu ujar Ries dalam The Lean Startup.

Menurut Ries, startup juga harus menggabungkan dengan metode kualitatif, terutama eksperimen. Dalam bukunya, startup yang dikelola Ries bahkan sampai meminta izin seseorang untuk diperbolehkan membantu orang tersebut selama sebulan penuh untuk melihat bagaimana pola hidup manusia di jaman sekarang. Tanpa menggunakan survey, tim startup Ries (bernama IMVU) mencoba merasakan sendiri dan memperkirakan apa aplikasi yang paling membantu dalam kehidupan sehari – hari.

MVP dan Akuntansi Inovasi
Kata Minimum Viable Product sudah cukup lazim di para penggiat startup, namun, belum banyak yang paham akan konsep tersebut. Menurut Ries, MVP adalah suatu produk yang hanya terdiri dari satu fungsi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dan dibuat hanya dengan sesedikit mungkin “nyawa” modal. Pengembangan MVP ini nantinya akan diukur dalam suatu platform bernama akuntansi inovasi.

Dalam implementasi The Lean Startup, pastikan sebuah MVP dapat menjawab semua pertanyaan berikut ini dengan “Ya!” :
  • ·         Apakah para konsumen sadar bahwa mereka menghadapi masalah yang ingin kita pecahkan?
  • ·         Jika tersedia solusi, akankah mereka membelinya?
  • ·         Akankah mereka membelinya dari kita?
  • ·         Bisakah kita membuat solusi untuk masalah itu?

Sebagai contoh, kita mengandaikan memiliki perusahaan startup di bidang sosial media. Untuk memonitor perkembangan user, kita menggunakan tabel dibawah.
Kategori
User
Teregistrasi
8000
Login Sekali
4000
Diaktifkan
2000
Aktif
500

Kemudian, dari tabel di atas, kita lakukan sebuah pembelajaran. Tentu, setiap pembelajaran membutuhkan uang. Ketika dapat uang, startup sering kali menggunakan semua uang tersebut untuk satu pembelajaran. Padahal, seharusnya, ada alokasi yang tepat dan bersabarlah, jangan tergesa-gesa. Uang tersebut dibagi menjadi bagian kecil-kecil. Misalnya, perusahaan mendapatkan $10.000, coba kita pakai $1.000 dulu dan lihatlah bagaimana perkembangan akuntasi inovasinya.
Kategori
User Sebelum
User Setelah
Kenaikan
Teregistrasi
8000
9000
12.50%
Login Sekali
4000
4750
18.75%
Diaktifkan
2000
2500
25.00%
Aktif
500
8000
60.00%

Dapat kita lihat, dengan $1.000, terjadi kenaikan user aktif 60%. Indikator ini menandakan pembelajaran yang dilakukan efektif untuk menaikkan kualitas produk. Sementara, apabila hasil justru menunjukkan user yang teregistrasi melebihi yang lainnya, pembelajaran tersebut lebih cocok untuk mempenetrasi pasar.

Selanjutnya coba keluarkan lagi $1.000 nya, dan lihat perkembangannya. Nanti akan ada di suatu titik dimana perkembangan berada di titik stagnan. Di saat itu, kita sudah mulai memikirkan apakah kita harus banting stir ke model bisnis lain atau tidak. Karena, apabila dilanjutkan terus, nantinya modal yang terpakai akan terbuang sia sia, melihat kondisi startup yang memang memiliki risikonya tinggi, namun, modal yang terbatas. Jika, ya, maka segaralah membuat indikator yang baru, riset pasar yang baru, dan MVP yang baru.

Kecepatan
Startup itu bermacam – macam dan persaingan antar mereka begitu ketat. Menurut Ries, pada umumnya startup memiliki siklus sebagai berikut:
Buat Produk > Ukur Data > Pelajari Ide > Buat Produk > ...
Siapa yang paling cepat, dia lah pemenangnya. Kebanyakan startup hanya fokus di membuat produk, tanpa mengetest produk tersebut dengan data. Atau, justru hanya ukur data, tanpa mempelajari ide apa yang didapat dari data tersebut.

Konsep 5 Why
Untuk menyelesaikan masalah, coba pakai 5 why. Contoh, ada masalah tisu toilet abis.
  • ·         Kenapa tisu toilet bisa abis? (Karena mas nya jarang ngisi lagi)
  • ·         Kenapa masnya jarang ngisi? (Karena ga disuruh sama staff bidang umum)
  • ·         Kenapa ga disuruh? (karena staff bidang finance bilang ga ada duitnya)
  • ·         Kenapa staff finance bilang ga ada duitnya? (Karena duitnya diambilin).

Selama lima kali, suatu masalah terus dicari apa penyebabnya. Cara berpikir seperti ini akan membuat kita mencari akar permasalahan sesungguhnya. Namun, seringkali, metode seperti ini justru hanya dijadikan alat bagi sebuah divisi untuk menyalahkan divisi lain (atau, antar staff saling menyalahkan). Dengan begitu, konsep 5 Why harus tetap dimonitor oleh paling tidak satu orang yang dianggap cukup bijaksana.

Innovation Sandbox
Tak hanya para direksi, staff juga pasti memiliki ide – ide menarik. Nah, sandbox ini diadakan untuk menjadi ajang eksperimen para staff. Dalam Sandbox, setiap staff dari tim manapun boleh masuk. Di sana, mereka akan membuat uji multivariat sejati dengan komponen tertentu dan segmen pasar tertentu yang memengaruhi indikator awal. Misalnya, dalam kasus aplikasi GoJek, apakah kenyamanan user akan meningkat jika harga diturunkan dan fitur messaging di dalam aplikasi ditambahkan. Mana yang lebih berpengaruh, harga atau fitur messaging? Dan, segmen pasar mana yang mengalami kenyamanan? Bapak – bapak, anak muda saja, atau semua kalangan?

Untuk mengukurnya secara jelas, setiap eksperimen memiliki jangka waktu dan harus dilakukan dari awal sampe akhir, juga ada batas jumlah konsumen yang ingin dipengaruhi. Contoh dalam kasus aplikasi Gojek tadi, didapati bahwa 200 bapak – bapak  mengalami kenyamanan dengan adanya fitur messaging. Sehingga, kita bisa memperkirakan apabila fitur messaging diaplikasikan, akan ada 200 bapak – bapak terus menerus menggunakan aplikasi GoJek.

Laporannya harus dirangkum dan mempropose beberapa indikator kerja rekomendasi (<10). Misal, setelah kita menemukan fakta 200 bapak – bapak tadi, kita menemukan fakta bahwa jumlah bapak – bapak menjadi tolak ukur bagi functionality sebuah fitur messaging. Semakin banyak bapak – bapak yang merasa nyaman, maka semakin berguna aplikasi messaging tersebut. Tak lupa, selama eksperimen berlangsung, apapun feedback dari konsumen yang dipengaruhi harus ditanggapi oleh tim tersebut.

Intinya
Startup juga dianjurkan untuk mengimplementasikan lean startup, yaitu bekerja dengan sistem batch kecil dengan pembelajaran tervalidasi (mengetahui keinginan konsumen sesungguhnya dengan merasakan betul-betul kehidupannya).  Pembelajaran tersebut diukur dalam akuntansi inovasi, dan dari sana kita harus menentukan apakah kita harus banting setir atau tidak. Itu dari segi strategi perusahaan. Dan dari segi teknis, pakailah strategi kanban dan selalu terbuka pada sistem extendable sandbox, juga adakanlah strategi 5 Why untuk evaluasi masalah yang muncul