Jumat, November 2

Contagious - Menjawab Bagaimana Cara Membuat Tren?


Contagious – Menjawab Bagaimana Cara Membuat Tren

Sebuah karya unik kembali ditelurkan oleh Jonah Berger. Dengan Contagious-nya mengajarkan bahwa kita harus memanfaatkan getok tular dan gebrakan baru. Buku yang didominasi cover oranye tersebut memang seolah membuka pandangan kita akan dunia pemasaran. Bahkan, untuk mereka yang tidak pernah terjun ke dunia itu sekalipun.

Membuat Tren
Contagious diawali dengan pengantar tentang teori STEPPS yang seringkali dibahas dalam buku teks pemasaran kuliahan. Lalu apa bedanya buku ini dengan buku kuliahan? Tentu, Jonah Berger tak hanya murni mengupas STEPPS. Banyak hal yang dikupas dalam karya uniknya tersebut. Salah satunya adalah tentang bagaimana cara sebuah tren itu diciptakan. Menurut Berger, tren diciptakan dari status siaga fisik yang dibagikan. Siaga fisik tersebut diperoleh dari konten yang mengandung akurasi dan emosi. Proporsi antar keduanya pun harus pas. Konten yang hanya berisi emosi hanya akan berujung layaknya pemberitaan Line Today yang dipenuhi bumbu. Memang, akan menghasilkan tren, namun jangka pendek. Pesan tidak akan bertahan lama. Terlebih, masyarakat Indonesia kini pun semakin rasional. Sebaliknya, konten tak beremosi yang dipenuhi oleh akurasi data akan tampak membosankan untuk dibaca. Konten memang bagus. Namun, tak ada yang membaca.
Kemudian. bagaimana proporsi yang tepat, antara emosi dan akurasi konten agar banyak yang membaca? Menurut Berger, kita harus melihat kembali ke segmen pasarnya. Jika memang kombinasinya tepat dan menyasar pada segmen yang tepat, maka secara alami pesan yang kita sampaikan akan mewabah.
Berdasarkan pengamatan subjektif saya, ibu-ibu akan cenderung lebih membaca konten yang mengandung emosi. Entah mengapa, ibu saya suka sekali membaca Line Today. Kontennya dipenuhi dengan bumbu, beserta judul yang membuat jempol geram untuk menekan. Sementara, seorang ayah akan cenderung melihat akurasi data dalam menimbang mana informasi yang terpercaya. Terlihat dari broadcast message yang sering ia bagikan di grup Whatsapp keluarga, pasti ada data penelitian yang mendukung pesannya.
Lain hal dengan ayah dan ibu, masyarakat juga terbagi ke beberapa segmen lain. Begitu pula dengan racikannya. Berbeda segmen, berbeda pula proporsi konten dan emosinya. Kaum penyuka Jepang (Wibu) akan menyukai visual berbau kekanak-kanakkan. Sementara kaum Punk, menyukai konten yang mengisyaratkan keberanian.

Siklus
Terlepas dari proporsi, Jonah Berger juga menyebutkan jenis konten harus memperhatikan siklusnya:

Residu sosial > Generalitas > Bukti Sosial

Residu sosial berkaitan dengan hasil perilaku sosial dan cenderung dijadikan bukti. Contoh paling relevan dalam fase ini adalah kasus gelang Power Balance yang marak pada 2010 silam. Oleh produsennya, gelang tersebut sengaja dibagikan gratis kepada para atlet olimpiade. Praktik ini berhasil membangun pandangan bahwa Power Balance memang terbukti akan khasiatnya. Sehingga, digunakan oleh para atlet. Tentu saja, ketika para atlet bertanding, sorotan kamera mengarah pada setiap bagian tubuh atlet. Para penonton olimpiade melihat atlet beserta gelang uniknya. Gelang Power Balance mulai menjadi Bukti Sosial, bahwa gelang Power Balance adalah gebrakan baru.
Bukti sosial gebrakan Power Balance kian santer di masyarakat. Hampir 99% masyarakat mengenakannya. Kemudian, dalam tahapan selanjutnya, masyarakat mulai mengidentifikasi apakah bukti sosial tersebut merupakan hal publik atau privat. Tahap ini dinamankan Generalitas. Dalam proses ini, suatu gebrakan terklasifikasi menjadi dua, publik atau privat. Tergantung masyarakat menilai seperti apa. Masyarakat lebih merasa bangga apabila Power Balance dipamerkan, ketimbang menjadi momen pribadi. Mereka percaya bahwa gelang Power Balance adalah hal publik, ketimbang privat. Setelah proses klasifikasi, gebrakan kembali digunakan oleh si atlet apabila memang masih hype. Proses ini berlangsung terus menerus sampai atensi masyarakat teralih pada hal lain.
Menurut Berger, para pelaku pemasaran wajib mengidentifikasi sudah sampai mana fase dari produk yang akan ia pasarkan. Apabila sudah sampai residu sosial, maka para pelaku pemasar sebaiknya fokus pada fase selanjutnya, generalisasi. Namun, apabila telah mencapai proses generalisasi, sebaiknya fokus menciptakan bukti sosial. Begitu seterusnya.

Aplikasi Teori
Lebih dari tren dan siklusnya, Berger juga memperkaya Contagious dengan teori-teori spesifik lainnya. Salah satunya $100rule. Teori ini berpendapat bahwa ketika harga produk dibawah $100, maka gunakan papan diskon dengan angka nominal seharusnya. Namun, apabila diatas $100, gunakan persentase untuk menampilkan reduksi dalam iklan. Memang, praktik ini banyak sekali dipakai oleh para pemasar di Indonesia.
Meski begitu, dari sekian banyak teori, banyak strategi pemasaran yang cenderung ikut-ikutan Amerika. Contohnya, restoran dengan menggunakan pintu rahasia yang dijelaskan secara detail pada bab II. Di Depok, terdapat restoran ala penjara yang jelas sekali mengikuti teori tersebut. Eksterior dihiasi dengan jeruji besi, menggambarkan kesan misterius pada restoran tersebut. Dari segi teori sudah sama persis. Namun, tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung menilai restoran dari kelezatan jenis makanannya. Tetap saja, restoran tersebut sepi pelanggan. Di Amerika memang berhasil. Di Indonesia, belum tentu.
Secara keseluruhan, buku ini terbilang bagus. Saya membelinya di PaperClip OneBel Park Pondok Labu pada Januari 2018 dan itu pun stok terakhir di rak. Harganya pun Rp70.000 dan bukunya sudah menguning termakan zaman. Cukup untuk kantong mahasiswa buat menghabiskan waktu liburan.

Contagious (2013) – Jonah Berger