Selasa, Oktober 23

Organisasi Mahasiswa, Perlukah?



Ketika pertama kali masuk ke Universitas idaman dan menjalani rangkaian orientasi, mahasiswa baru selalu diperkenalkan dengan pertunjukkan organisasi mahasiswa (atau UKM, atau Perkumpulan, Himpunan, Liga, BO/BSO, baik organisasi intra maupun ekstrakampus, atau apapun sebutannya). Tarian, hiburan, musik, atau bahkan adegan menegangkan dipertontonkan secara gamblang di depan panggung. Semua terlihat menarik dan memanjakan mata. Banyaknya pertunjukkan menunjukkan banyaknya organisasi yang ada di universitas tersebut. Kita, sebagai mahasiswa, dibebaskan untuk memilih sesuai dengan minat dan bakat. Sebagian besar mahasiswa sangat antusias mendaftarkan diri untuk organisasi mahasiswa. Sementara, sebagian lainnya memutuskan untuk langsung pulang ke kost, atau ke rumah masing. Loh mengapa mereka tidak mau ikutan? Bukankah sia-sia, sudah masuk kampus, eh tidak diikuti kegiatannya. Atau, kita yang antusias, justru yang salah, apakah organisasi memang tidak perlu diikuti? Salahkah ikut organisasi? Untuk menjabarkan penjelasannya, penulis akan menjelaskannya sesuai dengan alasan yang sering diperbincangkan.

Pertama, alasan jangka pendek, yaitu "ikut
organisasi mahasiswa akan mendukung penilaian akademis, menaikkan IPK, dan memudahkan melamar kerja". Pertanyaannya, apakah itu benar?

Di beberapa universitas, ada yang kurikulumnya mewajibkan mahasiswa mengikuti
organisasi. Seberapa baik performa mahasiswa di organisasi tersebut nantinya akan memengaruhi skor penilaian di rapor akademis mahasiswa tersebut. Tentu, apabila kondisinya seperti ini, sudah jelas organisasi mendukung penilaian akademis dan organisasi wajib dihadirkan di lingkungan kampus. Namun, di beberapa Universitas, seperti UI contohnya, tidak memasukkan penilaian tersebut. Meski begitu, organisasi di UI masih digandrungi mahasiswa dan mahasiswa memiliki alasan lain untuk berkontribusi di organisasi tersebut.

Kedua, alasan jangka menengah, yaitu "mengikuti
organisasi adalah melatih softskill yang bisa digunakan untuk bekerja dan berumah tangga kelak." Softskill dalam hal ini penulis asumsikan sebagai nilai tambah yang dapat digunakan mahasiswa untuk mengembangkan diri, seperti kemampuan manajerial, komunikasi, dan negosiasi. Muncul pertanyaan, apakah kini mahasiswa mendapatkannya dengan mengikuti kegiatan organisasi mahasiswa?

Ketika mahasiswa mulai memasukkan nama dan nomor teleponnya dalam kertas pendaftaran
organisasi sampai terpilihnya ia sebagai anggota ORGANISASI, tentu mahasiswa disibukkan dengan seabreg kegiatan yang tiada henti, baik itu rapat, laporan, atau apapun itu. "Kegiatan" itu juga tak berlangsung mulus.

Sebagai contoh, ketika terpojokkan dengan keterbatasan dana,
organisasi kampus mencari bantuan dana ke pejabat kampus dalam bentuk hibah. Atau, jika masih belum terpenuhi, mereka mencari sumber pemasukan berupa "dukungan" alumni atau pengajuan "dukungan" sponsorship ke perusahaan. Namun, tentu, "dukungan" tersebut adalah hubungan timbal balik, dan organisasi wajib memberikan benefit untuk perusahaan dan alumni yang membantu. Ketika tidak memberikan benefit apapun, perusahaan dan alumni tersebut akan diprediksi tidak lagi memberikan "dukungan" ke depannya. Alternatif lainnya mungkin membudakki para mahasiswa yang baru masuk untuk berjualan donat gula dan kaos-kaos lucu. Akan tetapi, penghasilan dari kegiatan "pembudakkan" hanya bersifat sementara. Jika dilakukan terus menerus, mahasiswa baru akan tersadar dan membangun image organisasi sebagai “tempat pembudakkan massal.” Ke depannya, hal ini tentu akan membahayakan image dari organisasi itu sendiri.

Belum lagi, kondisi kurikulum akademis yang semakin menjerat.
Kurikulum didesain sedemikian rupa agar mahasiswa dibebani tugas yang sedemikian berat. Sehingga, mahasiswa akan terfokus pada tuntutan kurikulum dan tidak lagi sempat untuk memikirkan hal lain selain akademisnya, termasuk kegiatan di organisasi. Tak hanya itu, kegiatan mahasiswa pun semakin rumit. Alih-alih pembelajaran birokrasi kepada si mahasiswa penyelenggara kegiatan, para pejabat kampus dengan bebasnya mempersulit setiap kegiatan mahasiswa. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari mempertanyakan filosofi sampai teknis yang sedemikian terperinci. Namun, meski seperti ini, banyak mahasiswa yang mengakui mendapatkan pelajaran berharga atas sekelumit masalah yang dihadirkan dari kegiatan organisasi. Apabila seperti ini, maka kegiatan organisasi menjadi keharusan di kampus.

Ketiga, Alasan jangka panjang, "Networking." Mahasiswa memutuskan untuk ikut organisasi dalam rangka mencari teman sejawat yang siapa tau bisa berguna di masa depan, baik itu dijadikan partner bisnis, atau bahkan jodoh(?).

Melihat kondisi hubungan mahasiswa yang semakin beragam, alasan ini cukup dapat dipertimbangkan. Apabila mahasiswa
dalam organisasi sangat akrab dan solid, pertemanan mungkin dapat dijadikan landasan sebagai antisipasi untuk masalah yang timbul di kemudian hari. Nyatanya, beberapa mahasiswa menganggap hubungan organisasi hanya sebatas di organisasi. Di kelas kuliah, beda. Apalagi di pekerjaan, semakin beda atau bahkan menghilang bak ditelan bumi. Dan, sebagian beranggapan bahwa hubungan organisasi hanya sekadar "datang-kalau-butuh." Hal ini tentu tidak bisa dijadikan pembenaran bahwa organisasi dapat membantu untuk solusi atas permasalahan ke depan.

Keempat, alasan lainnya, yaitu "kenyamanan". Subjektif memang, tapi banyak diakui itu dijadikan pembenaran bagi mahasiswa yang kehabisan alasan dan masih memutuskan tetap berkontribusi di organisasi. Jika seperti ini, organisasi
tetap perlu diadakan ketika memberikan kenyamanan bagi mahasiswa.

Namun, ketika tidak nyaman, tau kan jawabannya?
Atau mungkin ada alasan lain?

Tri Sutrisno Adri, adalah mahasiswa manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia angkatan 2015 dan pernah aktif di beberapa kegiatan organisasi kampus.